Rabu, 06 Januari 2010
Meracik Laba Dari Aneka Menu Bebek
Salah satu restoran yang mengaku berhasil menciptakan menu bebek yang diminati banyak orang adalah restoran bebek goreng Mbah Wongso asal Yogyakarta. Rumah makan ini menyajikan berbagai menu bebek. Ada bebek goreng, bebek bakar, rica-rica bebek, dan bebek penyet.
Menurut Suanto, keunggulan menu bebeknya terletak pada tekstur bebek yang garing tetapi lembut, dan tanpa bau amis. Ini berkat ramuan bumbu khas Mbah Wongso yang dipadu sambal kocek, khas racikan tangan Suanto.
Anto -panggilan akrabnya- memulai usaha ini tahun 2002 di Yogyakarta. Usaha lelaki asli Solo ini terus berkembang, hingga akhirnya ia punya empat cabang dan namanya di kenal di Solo dan sekitarnya. Anto yakin minat terhadap menu bebek akan terus meningkat. Namun ia juga masih terus giat melakukan promosi. Di antaranya lewat pameran, internet, maupun koran lokal.
Tahun 2008, Anto pun menawarkan waralaba. Sekarang dia sudah punya lima terwaralaba yang membuka gerai di Malang, Pekalongan, Kudus, dan Jakarta.
Modal Rp 102 jutaAnto menawarkan paket waralaba seharga Rp 102 juta untuk wilayah Jawa, dan seharga Rp 122 juta untuk di luar Jawa. Paket waralaba tersebut sudah mencakup fee waralaba (franchise fee) sebesar Rp 35 juta untuk lima tahun, semua peralatan produksi, pelatihan karyawan, stok bahan baku pertama, seragam karyawan, dan promosi. Paket investasi itu juga sudah termasuk renovasi tempat, namun tidak termasuk biaya sewa tempat.
Seperti kebanyakan waralaba lain, Anto juga mengharuskan terwaralaba membeli daging bebek dari pihaknya. Untuk lalapan dan bumbu lainnya, terwaralaba bisa membeli dari tempat lain.
Harga menu tergantung lokasi gerai. Untuk bebek goreng, misalnya, Anto mematok harga Rp 10.000 per porsi untuk Yogya, dan Rp 14.000 di Jakarta. Harga rica-rica bebek Rp 15.000 di Yogya, dan Rp 19.000 di Jakarta. Tetapi, Anto tidak memberlakukan harga mati. Terwaralaba bisa menentukan harga sendiri.
Menurut hitungan Anto, jika terwaralaba bisa menjual 100 porsi atau sekitar 25 ekor per hari, terwaralaba bisa meraup omzet Rp 1,5 juta per hari, atau Rp 35 juta - Rp 45 juta per bulan. Setelah dikurangi semua biaya, termasuk sewa tempat, terwaralaba akan balik modal antara 12 bulan-18 bulan.
Nani Astono, salah satu mitra Bebek Goreng Mbah Wongso yang membuka gerai di Yogyakarta sejak awal 2009, menyatakan tertarik menjadi terwaralaba karena Mbah Wongso menawarkan menu lebih variatif.
Nani bilang sejauh ini ia sudah mempunyai banyak penggemar. Dalam sehari setidaknya ia bisa menghabiskan 20 ekor bebek, dengan omzet rata-rata Rp 1 juta. Namun ia mengaku, tingkat keuntungan bersih yang ia peroleh hanya 15%. Karena itu, ia belum bisa balik modal dalam waktu dekat ini.
Sumber : Kompas.com
Minumnya Komplet, Peruntungannya Melangit
Memang, umumnya, setiap gerobak hanya mengusung minuman tertentu. Ada yang khusus menyajikan kopi, teh, jus, atau es krim. Padahal, tidak semua orang suka kopi, teh, jus, atau es krim. Itu berarti, pembeli potensial mereka terbatas.
Nah, dari sisi konsumen, terbayang juga, kan, betapa repot bila dalam waktu bersamaan si anak menginginkan es krim, sementara ibu berhasrat menyeruput secangkir teh hangat manis, dan sang bapak ingin menghirup wangi aroma kopi panas? Peluang inilah yang ditangkap oleh Revo Indonesia sehingga perusahaan ini membuka gerai minuman dengan tiga menu sekaligus: kopi, teh, dan es krim. “Pasar lebih luas ketimbang gerai yang menjajakan minuman sendiri-sendiri,” kata Hendra, pemilik Revo.
Memulai usaha sejak Desember 2008, usaha yang dirintis Hendra membidik pasar kelas menengah dan bawah yang menurut dia menyimpan potensi lebih lebar. Maka itu, harga minuman Revo terbilang murah, Rp 2.500 sampai maksimal Rp 6.000 per cup.
Dengan mematok harga ini, Hendra mengaku usahanya bisa berkembang cepat. Hanya butuh waktu kurang dari setahun, gerainya bertambah menjadi 125 unit dan tersebar di seluruh Jabodetabek.
Pertumbuhan gerai minuman Revo yang cepat lantaran sejak Mei 2009 Hendra menawarkan program kemitraan. “Kini sudah ada 65 calon investor yang masuk daftar tunggu,” ujar dia, dengan nada-nada promosi.
Tertarik menekuni usaha minuman seperti Hendra?
Ada banyak pilihan yang bisa Anda ambil. Selain menjadi mitra usaha Revo, Anda juga bisa menjadi mitra Men United, penjaja teh dan kopi rasa buah, atau bergabung dengan jaringan waralaba Baltic Ice Cream yang menjajakan es krim.
Agar bisa menjajakan bermacam minuman dalam satu lokasi gerai, Anda tak harus menjadi mitra Revo. Anda bisa menjadi mitra beberapa jaringan usaha penjaja minuman, lalu menjualnya bersama-sama di satu tempat. Sama saja, kan?
Anda juga bisa memulai usaha secara mandiri dengan berjualan tiga minuman sekaligus dengan mengusung merek sendiri. Kalau tidak tahu memproduksi minuman tertentu, ya, khusus minuman yang tak Anda kuasai itu Anda bisa bergabung dengan jaringan waralaba atau kemitraan tertentu.
Revo
Tak ada yang istimewa dari tawaran kemitraan Revo Indonesia. Usaha ini hanya bermodalkan booth kecil sebagai tempat berjualan. Peralatannya juga tak beda dengan gerai usaha minuman lain, yakni teko listrik, shaker pengocok minuman, termos, freezer, penyimpan es, dan es krim.
Hendra bercerita, dia memulai usaha di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan. Lokasi yang menjadi tempat jualan dekat dengan tempat bermain anak-anak. Di situ, para orangtua umumnya menunggu anak-anaknya bermain.
Berawal dari situ, Hendra bisa mengembangkan usaha dengan membuka tujuh gerai yang tersebar di berbagai pusat perbelanjaan di Ibu Kota. Agar peluang ini tak ikut disambar orang, Hendra pun lantas mengembangkan usaha dengan menawarkan kemitraan.
Konsepnya sederhana. Si calon mitra cukup menyediakan tenaga kerja dan tempat berusaha. Khusus untuk tempat, Hendra menyarankan agar mitra memilih tempat-tempat yang ramai dilalui orang. Misalnya mal, pasar, lokasi sekitar kampus, kantin perkantoran, stasiun kereta api, dan terminal bus.
Namun, mitra juga harus memerhatikan mitra Revo lainnya. Agar tidak terjadi persaingan antarmitra, lokasi mereka tak boleh berdekatan, minimal jarak antargerai 500 meter–1 kilometer. “Dengan begitu, kelangsungan usaha lebih terjamin,” kata Hendra.
Mitra tentu harus menyetorkan modal sebagai pengganti biaya peralatan dan perlengkapan usaha dan bahan baku serta pelatihan pembuatan minuman. Khusus untuk bahan baku selanjutnya, mitra harus membeli bahan baku di Revo. “Bahan dasar kami berbeda dan tidak dijual di tempat lain,” tandas Hendra.
Ada tiga program kemitraan yang ditawarkan Revo. Pertama, mitra bisa mengambil program sendiri-sendiri: Revo Coffe, Revo Tea, atau hanya Revo Ice. Kedua, mitra bisa mengambil program kemitraan tiga menu minuman sekaligus. Terakhir, mitra bisa memilih hanya dua menu minuman, misalnya teh dan kopi, teh dan es krim, dan seterusnya.
Masing-masing pilihan itu tentu membutuhkan modal investasi berbeda. Modal mengikuti program Revo Coffe dan Revo Tea sama, yakni Rp 6,5 juta. Adapun modal Revo Ice mencapai Rp 7 juta. “Jika tertarik tiga menu sekaligus, investasinya Rp 15 juta,” ujar Hendra.
"Sementara, jika mitra ingin menggabungkan booth kopi dan teh, biaya investasinya bertambah Rp 1,5 juta,” papar Hendra.
Dengan biaya tersebut, Revo menjamin mitra bakal balik modal dalam waktu minimal dua bulan. Ini dengan catatan, mitra mampu menjual minuman 50–60 cup per menu atau 150–200 cup sehari. Perincian harga minuman es teh Rp 2.500, sedangkan dengan aneka rasa Rp 5.000. Adapun kopi Rp 5.000 dan kopi aneka rasa Rp 6.000, sementara es krim hanya Rp 2.500 per cup.
Bila kurang dari jumlah itu, “Balik modalnya tentu lebih lama,” ujar dia. Tapi, dari pengalaman, “Mitra bisa balik modal hanya dalam hitungan tiga–empat bulan,” ujar dia.
Dalam menjalankan usahanya, Hendra mengaku tidak membutuhkan promosi. “Lebih mengandalkan promosi antar-mitra saja,” ujar dia. Cara ini efektif lantaran mitra sudah berpengalaman menjalankan usaha sendiri.
Agar promosi dari mulut ke mulut berlangsung efektif, Revo menawarkan hadiah Rp 500.000 dan potongan 20 persen dari pembelian bahan baku saban bulan bagi mitra yang berhasil mengajak investor ke Revo.
Men United
Men United adalah gerai usaha milik CV Sukses Group. Perusahaan yang sudah berdiri sejak tahun 2005 ini menawarkan kemitraan minuman teh dan kopi rasa buah sejak tahun 2007. Kini, usaha yang berawal dari Medan ini telah berkembang ke berbagai daerah: Batam, Semarang, Balikpapan, Jakarta, Bogor, dan Karawang.
Seperti juga Revo, Men United menawarkan aneka rasa teh dan kopi dengan 16 rasa buah. Dua rasa pilihan di antaranya menggunakan buah khas Medan, yakni markisa dan terong belanda. Kopinya juga khas Medan, yakni kopi sidikalang. “Kopi ini terkenal nikmat di Medan,” kata Nina Sela, Manajer Pemasaran CV Sukses Group, berpromosi.
Dengan harga teh per cup Rp 2.500 hingga Rp 8.000 serta kopi Rp 5.000 hingga Rp 9.000 per cup, Nina bilang, usaha ini bisa balik modal minimal tiga bulan. Syaratnya, mitra mampu menjual 100 cup teh dan 50 cup kopi sehari dengan omzet mencapai Rp 650.000 per hari. “Bahkan, banyak yang bisa balik modal lebih cepat dari tiga bulan karena omzet rata-rata mitra usaha kami Rp 800.000 per hari,” ujar dia.
Jika tertarik, calon investor cukup menyediakan tempat dan modal usaha Rp 14 juta. Dengan modal segini, mitra akan mendapatkan paket booth lengkap dengan kanopi, satu perlengkapan usaha, serta set tea dan dispenser.
Sebelum memulai usaha, mitra akan mendapatkan pelatihan karyawan dan pasokan bahan baku yang harganya tidak jauh berbeda dengan harga di pasaran. Misalnya, sekilogram teh kering seharga Rp 16.000, kopi Rp 8.000, dan perasa buah Rp 35.000 per 1,5 liter.
Baltic Ice Cream
Es krim bikinan Baltic memang sudah terkenal sejak lama. Namun, ia baru mulai membuka kemitraan dengan sistem waralaba sejak April 2009. Hasilnya, kini sudah terjaring empat terwaralaba di Puri Indah, Lippo Karawaci, BSD City, dan Kelapa Dua. “Belum banyak, memang, karena tawaran kami masih terbatas di Jakarta,” terang Janto Tan, Manajer Pemasaran Baltic.
Beberapa kelebihan es krim ini adalah nama yang sudah terkenal serta penggunaan bahan baku yang alami, seperti susu dari susu sapi murni, sehingga tekstur es krim dia lebih lembut daripada es krim pada umumnya.
Dengan sistem waralaba, investor juga punya kewajiban membayar royalti 5 persen dari total omzet saban tahun, selain investasi awal segede Rp 75 juta. Investasi awal ini sudah termasuk franchise fee Rp 25 juta untuk lima tahun.
Dari biaya investasi ini, terwaralaba akan mendapatkan perlengkapan pembuatan es krim seperti freezer, booth untuk usaha, dan bahan baku pembuatan es krim. Selain menjual es krim, Baltic membolehkan mitra menjual kopi, teh, bahkan kentang goreng.
Dalam hitungan Baltic, terwaralaba bisa balik modal dalam waktu 10 bulan. Ini dengan asumsi mitra mampu menjual 80–125 cup es krim yang harganya Rp 6.000 hingga Rp 10.000 per cup. “Jika omzet per hari Rp 1 juta, maka mereka bisa balik modal kurang dari setahun,” kata Janto.
Sumber : Kompas.com
Sabtu, 26 Desember 2009
SINGAPURA, KOMPAS.com — Harga minyak memperpanjang rally mereka di perdagangan Asia, Kamis (24/12/2009), bertumpu pada penurunan yang lebih besar dari yang diperkirakan dalam cadangan energi Amerika Serikat.
Kontrak utama New York untuk minyak mentah jenis light sweet pada pengiriman Februari naik 46 sen menjadi 77,13 dollar AS per barrel. Adapun minyak mentah Brent North Sea, juga untuk pengiriman Februari, naik 12 sen ke posisi 75,57 dollar AS per barrel.
"Perayaan Natal telah mendorong, terutama dalam penurunan inventaris energi AS yang jauh lebih besar dari yang diperkirakan," kata analis.
Data yang diterbitkan oleh Departemen Energi Amerika Serikat (DoE) menunjukkan bahwa cadangan minyak mentah mengalami penurunan 4,9 juta barrel menjadi 327,5 juta barrel pekan lalu, dibanding prediksi para analis penurunan 1,6 juta barrel.
Data untuk minyak sulingan juga mencakup minyak pemanas, yang menjadi fokus karena Amerika Serikat dan Eropa mulai mengalami musim semi.
Namun, para analis mengkhawatirkan bahwa, meski menurun dalam cadangan energi AS, tingkat inventaris pada konsumen energi terbesar di dunia itu masih tinggi.
Senin, 14 Desember 2009
Sekarang, Bayar Taksi Bisa dengan Kartu Kredit
Senin, 14 Desember 2009
Express Group meluncurkan sistem pembayaran elektronik pertama di Indonesia yang dapat dipergunakan di Taksi Tiara Express. Bekerja sama dengan Bank Permata, seluruh pemegang kartu kredit dan debit VISA bisa melakukan pembayaran di Tiara Express tanpa perlu menggunakan uang tunai.
“Express Group adalah perusahaan penyedia layanan jasa transportasi taksi pertama di Indonesia yang menyediakan layanan pembayaran elektronik dengan kartu kredit,” sebut Presiden Direktur Express Group Daniel Podiman dalam siaran persnya di Jakarta, Senin (14/12/2009).
Head of Network Permata Bank YB Hariantono mengatakan, kerja sama yang dilakukan dengan Express Group ini merupakan wujud dari komitmen untuk memperluas basis layanan kepada masyarakat, utamanya dalam bertransaksi melalui layanan e-channel yang dimiliki Bank Permata. “Saat ini banyak sekali pengguna taksi premium yang notabene merupakan pengguna kartu kredit dan berorientasi cashless sehingga tersedianya layanan ini merupakan solusi yang paling tepat dalam menjawab kebutuhan tersebut,” ujarnya.
Dalam waktu dekat ini, Bank DKI juga akan menyediakan fasilitas serupa untuk semua pemegang kartu debitnya. “Diharapkan, di tahun 2010, nasabah Bank DKI dapat mempergunakan kartu ATM Bank DKI sebagai kartu debit untuk pembayaran Tiara Express,” ujar Direktur Operasional Bank DKI Ilhamsyah Joenoes.
Taksi Premium Tiara Express merupakan taksi dengan mobil Toyota Alphard AS 2,4 L. Taksi ini juga dilengkapi dengan GPS dan free wi-fi internet connection, charger untuk laptop dan mobile phone, serta LCD entertinment screen.
Kamis, 26 November 2009
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Belum Berkualitas
Sumber : Kompas, rabu 25 november 2009
Laju pertumbuhan ekonomi (LPE) pada masa Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) I dinilai belum berkualitas. Angka LPE memang cukup baik dengan pertumbuhan tetap positif meski sempat terjadi krisis global namun jumlah penduduk miskin tetap banyak.
Demikian dikatakan Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran Ina Primiana dalam diskusi t erbuka bertema 100 Hari Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Masa Depan Kaum Buruh Indonesia di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, Rabu (25/11).
Angka LPE pada tahun 2008 misalnya, sekitar 6 persen namun penduduk miskin masih banyak, sekitar 9,4 juta orang. Selain itu, kasus kelumpuhan atau gizi buruk masih ditemukan di berbagai desa. Kondisi perekonomian makro memang stabil namun sektor riil mengalami penurunan.
Pada masa KIB I, 10 kebijakan dikeluarkan untuk mendorong dunia usaha namun hingga tahun 2009 hasilnya dinilai belum maksimal. Berbagai kebijakan pun belum menyentuh persoalan ekonomi rakyat lapisan bawah. Padahal, Indonesia memiliki potensi perekonomian yang besar.
Senin, 19 Oktober 2009
Pertempuran Tiada Akhir
Perseteruan antara dua produsen kacang kulit dari Pati ini masih berlanjut, bahkan makin panas. Gelanggang pertempuran beralih ke medan distribusi. Bagaimana jurus masing-masing menangkis serangan?
“Kelinci dilarang masuk. Jangankan satu, apalagi dua.” Stiker berukuran tak lebih dari 10 x 10 cm yang bergambar muka kelinci dengan coretan menyilang itu, beberapa bulan terakhir ini marak menghiasi toko-toko ritel dan grosir makanan ringan di berbagai daerah. “Mungkin mereka niatnya mau membuat kami panas, tapi kami tidak mau merespons tindakan yang menurut kami justru malah memperburuk reputasi mereka sendiri,” ungkap Hawe Wijono, General Manager Penjualan & Pemasaran PT Y, menyoal beredarnya stiker itu.
Terlalu naif memang kalau konsumen tidak paham maksud yang sedemikian telanjang dan terang benderang dari kalimat pada stiker tersebut. Inilah babak lanjutan perang antara PT. Y, produsen kacang kulit garing Y, dan PT X, produsen X.
Pertarungan dua produsen kacang kulit di lini distribusi ini boleh dibilang sebagai babak baru perang yang mulai berkobar tahun 2001. Di gelanggang distribusi, perseteruan Y dengan X boleh dibilang makin sengit. Tak hanya stiker tersebut, menurut pengakuan Hawe, pihaknya juga mendapat informasi dari distributor bahwa produk Y dirusak dengan tusukan jarum supaya melempem saat masuk ke pasar ritel. “Saya sempat berpikir kok sejauh itu perlakuan mereka (X – Red.) kepada kami,” tuturnya. Kondisi persaingan di tingkat distribusi ini menurutnya sudah memosisikan pihaknya sebagai orang yang tertindas. “Menjadi orang teraniaya itu lama-kelamaan sakit lo,” Hawe menambahkan.
Menurut Dian Astriana, Manajer Komunikasi Korporat PT X , stiker itu dibuat untuk kalangan internal, dan ditempelkan di kantor-kantor distribusi sampai ke depo-depo. Ini, lanjut Dian, bertujuan memotivasi para wiraniaga (salesman) X agar jangan sampai lengah, selalu waspada dan terus menanamkan fighting spirit di benak mereka. Persoalannya, bagaimana stiker itu bisa sampai tertempel di toko dan grosir? “Itu nggak benar, kalau memang ada tolong dibuktikan,” jawab Dian.
Mengenai tuduhan merusak produk, X membantah keras. “Itu tuduhan yang sangat kasar. Pengrusakan produk merupakan tindakan kriminal, kenapa tidak dilaporkan saja ke pihak berwajib?” jelas Dian. Lagi pula, lanjut Dian, bagaimana bisa orang merusak sebuah produk yang dipajang di rak toko atau supermaket, sementara di sana juga ada petugas keamanan? “Mustahil kami mengorbankan upaya membangun citra dengan tindakan yang tidak terpuji,” lanjutnya seraya menambahkan bahwa kacang X hanya merupakan salah satu dari sekian banyak brand yang dimiliki X.
Perang antara dua musuh bebuyutan itu sejatinya sudah dimulai pada 2001. Ketika itu medan yang dipakai adalah layar kaca. Kacang X meluncurkan iklan burung besar yang menukik menyambar kacang di bawah yang terlihat ada kelincinya. Tak mau ketinggalan, Dua Kelinci pun membalas dengan lemparan kacang ke atas yang mengenai burung. Metafora burung dan kelinci yang dipakai itu sangat gamblang menjelaskan bagaimana kedua pemain ini saling berebut awareness konsumen. Puncaknya, saat Dua Y melancarkan komunikasi bebas kolesterol pada kemasannya yang gencar diiklankan di berbagai media cetak dan televisi. Komunikasi nonkolesterol itu sendiri bagaikan senjata makan tuan. Langkah Y itu menuai protes tak hanya dari produsen kacang kulit, tapi juga Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. Buntutnya, Badan Pengawasan Obat dan Makanan menegurnya, bahkan sempat menarik Dua Kelinci dari pasar.
Genderang perang telanjur ditabuh. Belakangan, setelah intensitas perang iklan mulai kendur, lini distribusi yang mulai digempur. Menurut Yadi Budisetiawan, Direktur Pengelola Force One, perang di lini komunikasi memang sudah berkurang, tetapi bukan berarti bendera putih berkibar di antara dua kubu itu. “Pertarungannya masih sengit. Kedua belah pihak masih mengintroduksi produk-produk dan varian-varian baru,” katanya. Ia menilai sebenarnya persaingan di industri kacang garing ini sudah terjadi di lini para petani pemasok kacang. “Masing-masing produsen mengambil hati petani dengan kerja sama mengijonkan,” ungkap Yadi.
Ia menuturkan, X mengambil cara yang berbeda. Perusahaan ini membangun usaha agronomi melalui anak perusahaannya, PT Bumi Tani Makmur, dengan mengembangkan petani plasma. “Ini merupakan langkah cerdik X,” katanya. Adapun Y mengijonkan pendanaannya kepada para petani dengan memberi modal uang untuk membeli bibit.
Di tengah perang yang masih berlangsung dan entah kapan berakhir, diakui Hawe, pihaknya mencoba menahan diri dengan tidak frontal menyerang. “Kami tidak pernah menganggap X sebagai kompetitor, ini yang menjadi benteng pertahanan kami,” ungkapnya. Menurutnya, ancaman terbesar bagi Y bukanlah kompetitor, melainkan kesiapan dan waktu. “Untuk mencapai target kan diperlukan kesiapan dan waktu,” katanya. Untuk itu, pihaknya lebih fokus membenahi berbagai lini. Misalnya, mencari bahan yang berkualitas, sumber daya, teknologi dan pendekatan ke distributor.
Diungkapkannya, angka penjualan Y tahun 2005 naik lima kali lipat dari 2001. “Saya optimistis, tahun ini angka penjualan diprediksi naik dua kali lipat dibandingkan dengan tahun sebelumnya,” katanya. Optimisme itu menurutnya didukung juga dengan amunisi yang dimiliki Y “Kami memiliki 18 manajer yang memiliki kaki tangan yang banyak plus distributor,” katanya. Y didistribusikan oleh 83 distributor di wilayah Indonesia Barat dan 62 distributor di Indonesia Timur.
Untuk menghadang laju lawan, X, seperti dituturkan Leony Hartono, Manajer Merek Divisi Kacang Grup X , tetap fokus pada identitas merek yang kuat untuk tiap kategori produk. Selain itu, pihaknya juga terus menggali inovasi untuk meluncurkan produk-produk baru yang benar-benar memberikan nilai tambah kepada konsumen. “Dengan begitu, Kacang X dapat merebut pasar secara tidak langsung,” ungkap Leony. Saat ini Kacang X mampu mempertahankan posisi sebagai pemimpin pasar. “Tahun 2005 Kacang X tumbuh 24%,” ujarnya. Untuk mempertahankan pangsa pasar, pihaknya melakukan pendekatan komunikasi dengan mengemas komunikasi yang fokus pada identitas merek dan nilai tambah untuk konsumen. “Kami terus mengedukasi konsumen untuk memperbesar market size.”
Menurut Leony, Kacang X mampu mempertahankan posisi sebagai pemimpin pasar karena memiliki amunisi ekuitas merek, kreativitas, bujet komunikasi pemasaran dan jaringan distribusi. Data Frontier 2004 menyebutkan, Kacang X menguasai pasar 81,4% dan Y 12,4%. Survei Corinthian Infopharma Corpora pada 2005 menunjukkan, pasar kacang di pasar dalam negeri ditengarai mencapai Rp 75-100 miliar per bulan atau Rp 900 miliar-1,2 triliun per tahun.
Tugas kelompok studi kasus etika bisnis
Pertempuran Tiada Akhir
Perseteruan antara dua produsen kacang kulit dari Pati ini masih berlanjut, bahkan makin panas. Gelanggang pertempuran beralih ke medan distribusi. Bagaimana jurus masing-masing menangkis serangan?
“Kelinci dilarang masuk. Jangankan satu, apalagi dua.” Stiker berukuran tak lebih dari 10 x 10 cm yang bergambar muka kelinci dengan coretan menyilang itu, beberapa bulan terakhir ini marak menghiasi toko-toko ritel dan grosir makanan ringan di berbagai daerah. “Mungkin mereka niatnya mau membuat kami panas, tapi kami tidak mau merespons tindakan yang menurut kami justru malah memperburuk reputasi mereka sendiri,” ungkap Hawe Wijono, General Manager Penjualan & Pemasaran PT Y, menyoal beredarnya stiker itu.
Terlalu naif memang kalau konsumen tidak paham maksud yang sedemikian telanjang dan terang benderang dari kalimat pada stiker tersebut. Inilah babak lanjutan perang antara PT Y, produsen kacang kulit garing Y, dan PT X, produsen Kacang X.
Pertarungan dua produsen kacang kulit di lini distribusi ini boleh dibilang sebagai babak baru perang yang mulai berkobar tahun 2001. Di gelanggang distribusi, perseteruan Y dengan X boleh dibilang makin sengit. Tak hanya stiker tersebut, menurut pengakuan Hawe, pihaknya juga mendapat informasi dari distributor bahwa produk Y dirusak dengan tusukan jarum supaya melempem saat masuk ke pasar ritel. “Saya sempat berpikir kok sejauh itu perlakuan mereka (X – Red.) kepada kami,” tuturnya. Kondisi persaingan di tingkat distribusi ini menurutnya sudah memosisikan pihaknya sebagai orang yang tertindas. “Menjadi orang teraniaya itu lama-kelamaan sakit lo,” Hawe menambahkan.
Menurut Dian Astriana, Manajer Komunikasi Korporat PT X, stiker itu dibuat untuk kalangan internal, dan ditempelkan di kantor-kantor distribusi sampai ke depo-depo. Ini, lanjut Dian, bertujuan memotivasi para wiraniaga (salesman) X agar jangan sampai lengah, selalu waspada dan terus menanamkan fighting spirit di benak mereka. Persoalannya, bagaimana stiker itu bisa sampai tertempel di toko dan grosir? “Itu nggak benar, kalau memang ada tolong dibuktikan,” jawab Dian.
Mengenai tuduhan merusak produk, X membantah keras. “Itu tuduhan yang sangat kasar. Pengrusakan produk merupakan tindakan kriminal, kenapa tidak dilaporkan saja ke pihak berwajib?” jelas Dian. Lagi pula, lanjut Dian, bagaimana bisa orang merusak sebuah produk yang dipajang di rak toko atau supermaket, sementara di sana juga ada petugas keamanan? “Mustahil kami mengorbankan upaya membangun citra dengan tindakan yang tidak terpuji,” lanjutnya seraya menambahkan bahwa kacang X hanya merupakan salah satu dari sekian banyak brand yang dimiliki X.
Perang antara dua musuh bebuyutan itu sejatinya sudah dimulai pada 2001. Ketika itu medan yang dipakai adalah layar kaca. Kacang X meluncurkan iklan burung besar yang menukik menyambar kacang di bawah yang terlihat ada kelincinya. Tak mau ketinggalan, Y pun membalas dengan lemparan kacang ke atas yang mengenai burung. Metafora burung dan kelinci yang dipakai itu sangat gamblang menjelaskan bagaimana kedua pemain ini saling berebut awareness konsumen. Puncaknya, saat Dua Kelinci melancarkan komunikasi bebas kolesterol pada kemasannya yang gencar diiklankan di berbagai media cetak dan televisi. Komunikasi nonkolesterol itu sendiri bagaikan senjata makan tuan. Langkah Y itu menuai protes tak hanya dari produsen kacang kulit, tapi juga Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. Buntutnya, Badan Pengawasan Obat dan Makanan menegurnya, bahkan sempat menarik Y dari pasar.
Genderang perang telanjur ditabuh. Belakangan, setelah intensitas perang iklan mulai kendur, lini distribusi yang mulai digempur. Menurut Yadi Budisetiawan, Direktur Pengelola Force One, perang di lini komunikasi memang sudah berkurang, tetapi bukan berarti bendera putih berkibar di antara dua kubu itu. “Pertarungannya masih sengit. Kedua belah pihak masih mengintroduksi produk-produk dan varian-varian baru,” katanya. Ia menilai sebenarnya persaingan di industri kacang garing ini sudah terjadi di lini para petani pemasok kacang. “Masing-masing produsen mengambil hati petani dengan kerja sama mengijonkan,” ungkap Yadi.
Ia menuturkan, X mengambil cara yang berbeda. Perusahaan ini membangun usaha agronomi melalui anak perusahaannya, PT Bumi Tani Makmur, dengan mengembangkan petani plasma. “Ini merupakan langkah cerdik X,” katanya. Adapun Y mengijonkan pendanaannya kepada para petani dengan memberi modal uang untuk membeli bibit.
Di tengah perang yang masih berlangsung dan entah kapan berakhir, diakui Hawe, pihaknya mencoba menahan diri dengan tidak frontal menyerang. “Kami tidak pernah menganggap Garuda sebagai kompetitor, ini yang menjadi benteng pertahanan kami,” ungkapnya. Menurutnya, ancaman terbesar bagi Y bukanlah kompetitor, melainkan kesiapan dan waktu. “Untuk mencapai target kan diperlukan kesiapan dan waktu,” katanya. Untuk itu, pihaknya lebih fokus membenahi berbagai lini. Misalnya, mencari bahan yang berkualitas, sumber daya, teknologi dan pendekatan ke distributor.
Diungkapkannya, angka penjualan Y tahun 2005 naik lima kali lipat dari 2001. “Saya optimistis, tahun ini angka penjualan diprediksi naik dua kali lipat dibandingkan dengan tahun sebelumnya,” katanya. Optimisme itu menurutnya didukung juga dengan amunisi yang dimiliki Y. “Kami memiliki 18 manajer yang memiliki kaki tangan yang banyak plus distributor,” katanya. Y didistribusikan oleh 83 distributor di wilayah Indonesia Barat dan 62 distributor di Indonesia Timur.
Untuk menghadang laju lawan, X, seperti dituturkan Leony Hartono, Manajer Merek Divisi Kacang Grup X, tetap fokus pada identitas merek yang kuat untuk tiap kategori produk. Selain itu, pihaknya juga terus menggali inovasi untuk meluncurkan produk-produk baru yang benar-benar memberikan nilai tambah kepada konsumen. “Dengan begitu, Kacang X dapat merebut pasar secara tidak langsung,” ungkap Leony. Saat ini Kacang X mampu mempertahankan posisi sebagai pemimpin pasar. “Tahun 2005 Kacang X tumbuh 24%,” ujarnya. Untuk mempertahankan pangsa pasar, pihaknya melakukan pendekatan komunikasi dengan mengemas komunikasi yang fokus pada identitas merek dan nilai tambah untuk konsumen. “Kami terus mengedukasi konsumen untuk memperbesar market size.”
Menurut Leony, Kacang X mampu mempertahankan posisi sebagai pemimpin pasar karena memiliki amunisi ekuitas merek, kreativitas, bujet komunikasi pemasaran dan jaringan distribusi. Data Frontier 2004 menyebutkan, Kacang X menguasai pasar 81,4% dan Dua Kelinci 12,4%. Survei Corinthian Infopharma Corpora pada 2005 menunjukkan, pasar kacang di pasar dalam negeri ditengarai mencapai Rp 75-100 miliar per bulan atau Rp 900 miliar-1,2 triliun per tahun.
Senin, 12 Oktober 2009
BUMN Paling Rentan Terhadap Korupsi
BANDUNG, KOMPAS.com - Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dinilai merupakan institusi yang paling rentan terhadap tindakan korupsi. Kerugian uang negara yang terbesar juga berasal dari tindak korupsi yang terjadi di dalam institusi BUMN.
Hal itu dikatakan Koordinator Badan Pekerja Indonesian Corruption Watch (ICW) Danang Widoyoko di sela-sela kegiatan diskusi yang bertajuk Peran Serta Serikat Pekerja dan Direksi dalam Upaya Tindakan Pencegahan terjadinya Korupsi di Lingkungan Perusahaan, di pabrik PT Pindad (Persero), Sabtu (10/10) di Bandung.
"BUMN paling rentan karena merupakan institusi yang erat berkaitan dengan pengusahaan ekonomi dan menyumbang pendapatan ke kas negara. Tindakan korupsi di BUMN pun berdampak langsung kepada keuangan negara," kata Danang.
Selain itu, praktik korupsi di BUMN semakin diperparah dengan kentalnya nuansa politis dalam pengelolaan BUMN. Ia mencontohkan pemilihan jajaran direksi atau komisaris BUMN yang pada kenyataannya amat bergantung pada lobi-lobi politik.
"Tidak jarang ditemui pimpinan BUMN yang tidak berlatar belakang profesional, melainkan memiliki karier di bidang politik. Hal itu semakin membuat BUMN terpuruk. Setiap kali ada pergantian pimpinan negara atau terjadi perubahan konstelasi politik, maka jajaran direksi dan komisaris pun bergeser," ujar Danang.
Untuk mewujudkan tata kelola BUMN yang baik, sejumlah pihak dalam BUMN harus aktif mengawasi kinerja pimpinan. Serikat pekerja BUMN, kata Danang, memiliki kekuatan untuk mengawasi tata kelola BUMN. "Mereka harus mengkritisi pengangkatan jajaran direksi atau komisaris yang muatan politisnya lebih kuat daripada pertimbangan profesional," tuturnya.
Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bidang Pencegahan, M Yasin menambahkan, tata kelola BUMN yang baik bisa diwujudkan dengan mengedepankan transparansi, akuntabilitas, efektivitas, dan penegakan hukum.
"Bila empat hal ini ditegakkan, maka kemampuan BUMN dalam menghasilkan laba akan meningkat. Akibatnya, daya tahan BUMN menguat. Dalam kondisi BUMN yang kuat dan berdaya saing, maka tidak perlu lagi ada wacana privatisasi BUMN," ujarnya.
Meskipun BUMN menyumbang pendapatan negara, ternyata kontribusinya bagi kas negara pun relatif kecil. Yasin, memperkirakan sumbangan BUMN hanya sekitar 10 persen ke dalam kas negara.
sumber : www.kompas.com
Selasa, 22 September 2009
Money Game Bermunculan
- Saya tidak setuju dengan adanya bisnis money game tersebut. Karena bisnis money game hanya menguntungkan anggota yang bergabung diawal pendirian usaha tersebut saja. Jika pasar sudah jenuh dan tidak ada anggota baru yang bisa direkrut, maka anngota yang terakhir bergabung akan mengalami kerugian.
- Karena Depag tidak bisa melakukan tindakan atas praktik money game yang beroperasi di Indonesia ini, maka Kasubdit kelembagaan dan usaha perdagangan yaitu Muhammad Tarigan beserta instansinya hanya bisa memberikan sosialisasi dan temu wicara agar masyarakat tidak sampai dirugikan karena terjerat usaha money game tersebut. Akibatnya perusahaan tidak mampu lagi memperoleh uang untuk membayar sejumlah komisi bagi anggota yang telah terekrut.
- Karena tidak ada tindakan tegas dari pemerintah. Pemerintah beralasan tidak bisa melakukan tindakan atas praktik money game, karena usaha mereka bukan tercakup dalam usaha yang diatur Depag atau bahkan dilarang oleh instansi pemerintah itu.
- Ya! Bisnis money game ini menurut saya harus dilarang, karena usaha bisnis tersebut bukan mensejahterakan dan menguntungkan semua anggotanya. Tetapi malah merugikan anggotanya, terutama untuk anggota terakhir atau anggota yang baru bergabung di usaha tersebut.
- Menurut pandangan saya menghalalkan segala cara dalam berbisnis jelas tidak etis. Memang dalam berbisnis asal tidak bertentangan dengan hukum itu dikatakan etis, terlepas tidak peduli bisnis tersebut halal atau tidak, serta merugikan orang lain atau tidak. Itulah hukum di dunia, tapi tidak untuk hukum di akhirat..!!!